7 Januari 2017 Minyak Naik Target Radiant Melejit

Minyak Naik, Target Radiant Melejit

 

JAKARTA. Boleh dibilang PT Radiant Utama Interinsco Tbk merupakan perusahaan yang masuk kategori optimistis dengan bisnis tahun ini. Mereka membidik target kontrak pekerjaan Rp 3 triliun, atau 71,43% lebih tinggi ketimbang realisasi tahun lalu.

Sepanjang tahun 2016, Radiant Utama mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 1,75 triliun. Perlu diketahui, realisasi perolehan kontrak tersebut meleset dari target awal yakni Rp 2,5 triliun.

Radiant Utama mengaku lebih percaya diri dengan prospek industri minyak dan gas (migas) tahun ini. Manajemen perusahaan berkode saham RUIS di Bursa Efek Indonesia itu memprediksi, industri migas global dan domestik bergerak ke arah perbaikan.

Makanya, Radiant Utama tak segan memburu kontrak di dalam negeri maupun luar negeri. Bagi mereka, tak masalah untuk melaju sendiri maupun bergabung dalam konsorsium saat meraih proyek. Hanya, belum ketahuan kontrak yang masuk daftar incaran perusahaan tersebut.

Meski ambisius memburu kontrak, Radiant Utama tetap selektif mengikuti tender. “Sehingga tercapai keseimbangan antara pertumbuhan yang ditandai dengan peningkatan pendapatan dan pengelolaan proyek yang lebih baik lagi supaya dapat meningkatkan laba yang dihasilkan,” terang Mona Nazaruddin, Sekretaris Perusahaan PT Radiant Utama Interinsco Tbk kepada KONTAN melalui surat elektronik, Rabu (4/1).

Selain kontrak baru, pengelolaan arus kas juga menjadi perhatian utama pengelola Radiant Utama tahun ini. Manajemen perusahaan ini berpendapat, pengelolaan duit internal yang cermat menjadi kunci keberhasilan menjalankan bisnis.

Tak hanya itu, manajemen Radiant Utama juga berhati-hati mengucurkan investasi. Alih-alih jor-joran mengucurkan duit, mereka memilih mempertimbangkan aspek profitabilitas dan kontinuitas proyek yang akan dibiayai.

Oleh karena itulah Radiant Utama hanya akan fokus menggarap satu proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Meskipun, mereka punya PT Supraco Indonesia, perusahaan yang khusus menangani PLTP.

“Saat ini kami akan fokus terlebih dahulu pada kegiatan eksplorasi Sorik Marapi sehingga untuk pengembangan baru di bisnis panas bumi yang membutuhkan modal besar belum kami targetkan di tahun ini,” terang Mona.

PLTP Sorik Marapi berkapasitas 240 megawatt (MW) dan berada di Sumatra Utara. PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) merupakan perusahaan yang mengembangkan pembangkit listrik panas bumi itu. OTP, perusahaan hasil patungan antara Origin Energy asal Australia dan Tata Power asal India, menguasai mayoritas saham SMGP.

 

Ingin tumbuh 20%

Mengintip laporan keuangan yang berakhir 30 September 2016, Radiant Utama melalui Supraco Indonesia meneken perjanjian kredit dengan OTP pada 9 Juni 2011. Perjanjian berkelanjutan itu untuk membiayai penempatan modal awal SMGP.

Sebagai kelanjutan dari perjanjian, Supraco Indonesia meminta OTP meminjamkan pokok tambahan untuk suntikan modal sebesar US$ 580.000 bagi SMGP. Supraco Indonesia akan membayar pinjaman pada saat SMGP membagikan dividen kepada pemegang saham.

Hingga laporan 30 September 2016 rilis, belum terdapat penerimaan dividen dari SMGP. Sementara sepanjang tahun 2017, Radiant Utama akan menyediakan dana belanja modal atau capital expenditure sekitar Rp 40 miliar.

Mayoritas belanja modal mereka gunakan untuk mendukung mobile offshore production unit (MOPU) atau fasilitas produksi lepas pantai yang berada di Selat Madura. Radiant Utama berharap bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga akhir tahun nanti.

“Dalam hal ini, perusahaan telah memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 20% lebih tinggi dibandingkan tahun 2016,” ujar Mona.

 

Source            : www.kontan.co.id

Date                : 7 January 2017

 

RU MASIH MELANJUTKAN EFISIENSI BIAYA

RADIANT UTAMA MASIH MELANJUTKAN EFISIENSI BIAYA

Jakarta. Kondisi bisnis minyak dan gas masih lesu membuat PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) memasang target stagnan seperti tahun lalu sebesar Rp 1,59 Triliun. Perusahaan penyedia layanan energi ini juga masih melanjutkan program efisiensi biaya.

Head of Corporate Secretary, PT Radiant Utama Interinsco Misyal A Bahwal memprediksi pada semester kedua nanti diprediksi menjadi kondisi masih sama dengan fluktuasi harga minyak dan gas. Makanya perusahaan menargetkan pendapatan stagnan dari tahun lalu.

“Walaupun menang tender, tapi sales kita masih kurang. Ini akibat dari oil company yang menahan utilisasi pabriknya,” Kata Misyal pada Public Expose, Rabu (29/6).

Misyal mengatakan ada beberapa kontrak baru yang tercatat dikuartal I tahun ini misalnya dari segmen bisnis technical support service mencapai Rp 148,8 Miliar, dari Agency and Offshore Service Rp 235,2 miliar, Inspection Rp 21,5 Miliar. Targetnya dari segmen segmen bisnis itu akan meningkat hingga akhir tahun.

“Dari technical support diharapkan mencapai Rp 1,74 Triliun, Offshore production facilities US$ 1,7 Juta, Inspection Service Rp 230 Miliar, Agency dan trading akan berkontribusi US$ 5 juta,” kata Misyal.

Selain itu Misyal menjelaskan selain rajin ikut tender-tender jasa konstruksi migas baru, perusahaan juga melakukan beberapa efisiensi yang sudah dijalankan dari tahun 2014. Misalnya dengan tidak menambah karyawan baru walaupun ada beberapa yang sudah pensiun.

“Kita mengurangi karyawan tapi secara natural, dengan tidak menambah karyawan baru, walaupun sudah ada yang pensiun. dan tidak memperpanjang yang kontrak,” kata Misyal.

Selain dari perusahaan juga melakukan efisiensi dari operasional, seperti pemakaian bensin dan lainya, agar bisa menekan biaya beban operasional. Perusahaan juga menganggarkan dana belanja modal lebih kecil ketimbang tahun lalu sebesar Rp 30 Miliar untuk peremajaan alat. Dana diperoleh dari kas internal dan pinjaman bank.

 

Source            : www.kontan.co.id

Date                : 29 June 2016

RADIANT UTAMA SIAP LUNASI UTANG MTN RP 35 M

RADIANT UTAMA SIAP LUNASI UTANG MTN RP 35 MILIAR

 

JAKARTA. PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) siap melunasi Medium Term Notes (MTN) I Tahun 2013 senilai Rp 35 miliar. Surat utang tersebut akan jatuh tempo pada 27 Juni 2016.

Rencananya, perusahaan akan melunasi MTN tersebut dari kas internal perusahaan.

MTN tersebut mendapatkan peringkat BBB+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Adapun periode pemeringkatan berlaku 11 Mei 2016 hingga 27 Juni 2016.

Peringkat yang sama juga disematkan untuk perusahaan dengan outlook stabil. “Untuk periode pemeringkatan perusahaan adalam 11 Mei 2016 hingga 1 Mei 2017,” ujar analis Pefindo Niken Indriarsih, Jakarta, Senin (16/5).

Niken mengatakan, peringkat mencerminkan posisi pasar RUIS yang moderat dengan lamanya pengalaman pada bidang jasa penunjang sektor minyak dan gas, nilai sisa kontrak yang cukup tinggi, dan bisnis yang terdiversifikasi. Namun, peringkat dibatasi oleh struktur permodalan Perusahaan yang agresif, risiko volatilitas pada sektor minyak dan gas, dan pendapatan yang terkonsentrasi pada beberapa pelanggan.

RUIS didirikan pada tanggal 22 Agustus 1984. Perusahaan menyediakan jasa penunjang operasional untuk sektor minyak dan gas di Indonesia, selain jasa inspeksi, jasa keagenan, dan jasa lepas pantai.

Pada 31 Maret 2016, pemegang saham Perusahaan terdiri dari PT Radiant Nusa Investama sebesar 22,6%, Haiyanto sebesar 27,5%, dan lain-lain termasuk publik sebesar 49,9%.

 

Source            : www.kontan.co.id

Date                : 16 May 2016