Radiant Utama Anggarkan Belanja Modal Rp 120 Miliar

JAKARTA – PT Radiant Utama InterinscoTbk (RU1S), emiten jasa pertambangan hulu minyak dan gas bumi (migas), menganggarkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 120 miliar, naik 160% dibanding alokasi belanja modal tahun laluRp 46,5 miliar. Sofwan Farisyi, Presiden Direktur Radiant Utama Interinsco, mengatakan alokasi belanja modal sebagian besar atau sekitarRp 100 miliar akan digunakan untuk menyediakan satu paket alat keruk (dredging) lepas pantai.

Alat keruk terdiri atas sembilan unit kapal berbagai tipe yang akan mulai dibangun di Batam, Kepulauan Riau pada Juni mendatang. Pembangunan dredging diperkirakan membutuhkan waktu empat hingga lima bulan sehingga pada November 2013 sudah mulai beroperasi.

“Nanti akan digunakan di delta Sungai Mahakam, proyeknya PT Total EP Indonesie. Tetapi masih tunggu awarding kontrak,” ujar dia di Jakarta, Selasa.

Misyal A Bahwa], Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Radiant Utama, mengatakan belanja modal yang disiapkan perseroan berasal dari pinjaman (80%), sisanya dari kas internal.

Perseroan sedang mengikuti tender dredging PT Total EP Indonesia, dan saat ini tinggal menunggu proses komersil akhir, sehingga perseroan optimis dapat meraih kontrak dredging tersebut. Apalagi Desember tahun lalu Radiant Utama juga mendapatkan proyek River Crossing and River Banks dari Total EP.

“Belanja modal perseroan tiap tahunnya hanya tumbuh 2-3%. Itu cukup untuk proyek yang ada. Belanja modal tahun ini naik pesat sebagai antisipasi proyek besar yang baru,” ungkap dia.

Anggaran belanja modal Rp 120 miliar tidak termasuk belanja modal US$ 4 juta yang sudah mulai dibelanjakan sejak tahun lalu untuk proyek River Crossing and River Banks. Proyek tersebut merupakan proyek pemasangan jaket pelindung pipa gas, baik yang melintasi sungai maupun yang terletak di sepanjang sungai Mahakam dengan nilai kontrak US$ 16 juta.

Hingga April, Radiant telah mengantongi kontrak senilai Rp 2,9triliun, lebih tinggi dari kontrak pada periode yang sama tahun laluRp 2,6 triliun-2,7 triliun. “Target pendapatan yang bisa dibukukan dari kontrak yang ada sudah pasti di atas Rp 1,6 triliun. Bisa mencapai Rp 1,8 triliun,” kata Misyal.

Tahun lalu pendapatan Radiant utama tercatat sebesar Rp 1,602 triliun, naik dibanding realisasi 2011 sebesar Rp 1,162. Hingga Maret 2013, perseroan telah membukukan pendapatan Rp 417 miliar, naik dari pendapatan periode yang sama tahun laluRp 316 miliar. Selain itu, laba bersih kuartal I 2013 naik menjadi Rp 15 miliar dari Rp 11 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Misyal, jika pendapatan perseroan tidak tergerus rugi kurs secara signifikan, laba bersih tahun ini bisa mencapai Rp 50 miliar, naik dibanding realisasi tahun lalu Rp 29 miliar.

Radiant Utama mendapat kan kontrak dari klien utama seperti Total EP, PT Chevron Pacific Indonesia, dan Santos Pty, Ltd. Sedang Dari kontrak yang sudah dikantongi, perseroan mendapatkan proyek dengan nilai kontrak paling besar dari proyek di selat Madura dan di Mahakam, Kalimantan Timur.

Emiten jasa hulu migas lainnya, PT ElnusaTbk (ELSA) hingga kuartal I 2013 telah meraih kontrak senilai US$ 231 juta, sebesar 66% di antaranya akan direalisasikan tahun ini.

“Dengan pencapaian ini kami yakin telah berada di jalur yang tepat dan mampu mencapai target yang ditetapkan untuk 2013,” kata Sri Purwanto, Head of Corporate Communication Elnusa.

Elnusa menargetkan pendapatan tahun ini naik 10% dibanding realisasi pendapatan 2012 sebesar Rp 4,77 triliun

Diversifikasi Usaha

Radiant serius melakukan diversifikasi usaha dengan membangun pembangkit listrik.

Misyal mengatakan perseroan melalui anak usahanya PT Supraco Mitra Energie sedang mengembangkan tiga pembangkit listrik tenaga mini hydro (PLTMH) di Solok, Sumatera Barat dengan total kapasitas mencapai 14 mega watt (MW).

“Kita kontraktor, jadi nature industri kita durasinya pendek, satu tahun paling lama. Jadi kita diversifikasi ke pembangkit listrik yang durasi nya bisa sampai 15 tahun,” ungkap dia.

Radiant telah menandatangani perjanjian jual beli listrik dari PLTMH Gumati 3 dengan PT PLN. Harga listrik disepakati Rp 797,2 per kilowatthour (kWh) selama 15 tahun. Perseroan juga sedang memproses perjanjian jual beli listrik untuk satu PLTMH, dan sedang melakukan studi kelayakan untuk satu PLTMH lainnya.

Radiant melalui anak usahanya, PT Supraco Indonesia, membentuk konsorsium bersama Origin Energy Ltd dan The Tata Power Company Ltd pada 2010 untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di wilayah kerja Sorik Marapai-Roburan-Sampuraga.Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Proyek itu diperkirakan membutuhkan investasi US$ 700 juta dengan kapasitas mencapai 240 MW dengan durasi lebih dari 35 tahun dan dengan opsi perpanjangan operasi sampai 25 tahun.
Source : Indonesia Finance Today
Date     : 29 May 2013

Posted in Uncategorized.

Radiant Utama Anggarkan Belanja Modal Rp 120 Miliar

JAKARTA – PT Radiant Utama InterinscoTbk (RU1S), emiten jasa pertambangan hulu minyak dan gas bumi (migas), menganggarkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 120 miliar, naik 160% dibanding alokasi belanja modal tahun laluRp 46,5 miliar. Sofwan Farisyi, Presiden Direktur Radiant Utama Interinsco, mengatakan alokasi belanja modal sebagian besar atau sekitarRp 100 miliar akan digunakan untuk menyediakan satu paket alat keruk (dredging) lepas pantai.

Alat keruk terdiri atas sembilan unit kapal berbagai tipe yang akan mulai dibangun di Batam, Kepulauan Riau pada Juni mendatang. Pembangunan dredging diperkirakan membutuhkan waktu empat hingga lima bulan sehingga pada November 2013 sudah mulai beroperasi.

“Nanti akan digunakan di delta Sungai Mahakam, proyeknya PT Total EP Indonesie. Tetapi masih tunggu awarding kontrak,” ujar dia di Jakarta, Selasa.

Misyal A Bahwa], Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Radiant Utama, mengatakan belanja modal yang disiapkan perseroan berasal dari pinjaman (80%), sisanya dari kas internal.

Perseroan sedang mengikuti tender dredging PT Total EP Indonesia, dan saat ini tinggal menunggu proses komersil akhir, sehingga perseroan optimis dapat meraih kontrak dredging tersebut. Apalagi Desember tahun lalu Radiant Utama juga mendapatkan proyek River Crossing and River Banks dari Total EP.

“Belanja modal perseroan tiap tahunnya hanya tumbuh 2-3%. Itu cukup untuk proyek yang ada. Belanja modal tahun ini naik pesat sebagai antisipasi proyek besar yang baru,” ungkap dia.

Anggaran belanja modal Rp 120 miliar tidak termasuk belanja modal US$ 4 juta yang sudah mulai dibelanjakan sejak tahun lalu untuk proyek River Crossing and River Banks. Proyek tersebut merupakan proyek pemasangan jaket pelindung pipa gas, baik yang melintasi sungai maupun yang terletak di sepanjang sungai Mahakam dengan nilai kontrak US$ 16 juta.

Hingga April, Radiant telah mengantongi kontrak senilai Rp 2,9triliun, lebih tinggi dari kontrak pada periode yang sama tahun laluRp 2,6 triliun-2,7 triliun. “Target pendapatan yang bisa dibukukan dari kontrak yang ada sudah pasti di atas Rp 1,6 triliun. Bisa mencapai Rp 1,8 triliun,” kata Misyal.

Tahun lalu pendapatan Radiant utama tercatat sebesar Rp 1,602 triliun, naik dibanding realisasi 2011 sebesar Rp 1,162. Hingga Maret 2013, perseroan telah membukukan pendapatan Rp 417 miliar, naik dari pendapatan periode yang sama tahun laluRp 316 miliar. Selain itu, laba bersih kuartal I 2013 naik menjadi Rp 15 miliar dari Rp 11 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Menurut Misyal, jika pendapatan perseroan tidak tergerus rugi kurs secara signifikan, laba bersih tahun ini bisa mencapai Rp 50 miliar, naik dibanding realisasi tahun lalu Rp 29 miliar.

Radiant Utama mendapat kan kontrak dari klien utama seperti Total EP, PT Chevron Pacific Indonesia, dan Santos Pty, Ltd. Sedang Dari kontrak yang sudah dikantongi, perseroan mendapatkan proyek dengan nilai kontrak paling besar dari proyek di selat Madura dan di Mahakam, Kalimantan Timur.

Emiten jasa hulu migas lainnya, PT ElnusaTbk (ELSA) hingga kuartal I 2013 telah meraih kontrak senilai US$ 231 juta, sebesar 66% di antaranya akan direalisasikan tahun ini.

“Dengan pencapaian ini kami yakin telah berada di jalur yang tepat dan mampu mencapai target yang ditetapkan untuk 2013,” kata Sri Purwanto, Head of Corporate Communication Elnusa.

Elnusa menargetkan pendapatan tahun ini naik 10% dibanding realisasi pendapatan 2012 sebesar Rp 4,77 triliun

Diversifikasi Usaha

Radiant serius melakukan diversifikasi usaha dengan membangun pembangkit listrik.

Misyal mengatakan perseroan melalui anak usahanya PT Supraco Mitra Energie sedang mengembangkan tiga pembangkit listrik tenaga mini hydro (PLTMH) di Solok, Sumatera Barat dengan total kapasitas mencapai 14 mega watt (MW).

“Kita kontraktor, jadi nature industri kita durasinya pendek, satu tahun paling lama. Jadi kita diversifikasi ke pembangkit listrik yang durasi nya bisa sampai 15 tahun,” ungkap dia.

Radiant telah menandatangani perjanjian jual beli listrik dari PLTMH Gumati 3 dengan PT PLN. Harga listrik disepakati Rp 797,2 per kilowatthour (kWh) selama 15 tahun. Perseroan juga sedang memproses perjanjian jual beli listrik untuk satu PLTMH, dan sedang melakukan studi kelayakan untuk satu PLTMH lainnya.

Radiant melalui anak usahanya, PT Supraco Indonesia, membentuk konsorsium bersama Origin Energy Ltd dan The Tata Power Company Ltd pada 2010 untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di wilayah kerja Sorik Marapai-Roburan-Sampuraga.Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Proyek itu diperkirakan membutuhkan investasi US$ 700 juta dengan kapasitas mencapai 240 MW dengan durasi lebih dari 35 tahun dan dengan opsi perpanjangan operasi sampai 25 tahun.
Source : Indonesia Finance Today
Date     : 29 May 2013

Posted in Uncategorized.